Mahfud MD menjelaskan radikalisme harus diartikan sebagai sikap dan sebuah paham bahwa yang benar hanya ideologinya sendiri.
Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD mengatakan adanya perempuan bercadar membawa pistol FN dan kitab suci yang mencoba menerobos Istana Negara membuktikan bahwa radikalisme masih ada di Indonesia.
"Menangkal tumbuhnya radikalisme di kalangan generasi muda harus dimulai dari lembaga pendidikan. Bahwa negara itu adalah karunia Tuhan Yang Maha Kuasa, yang dapat memberikan kita kesempatan untuk maju seperti sekarang," katanya pula. Selanjutnya Menko Polhukam akan menghadiri pengukuhan Guru Besar Prof Bayu Dwi Anggono dan Prof Sri Hernawati, di Auditorium Unej pada Sabtu .
Kabag Banops Densus 88, Kombes Aswin Siregar, menjelaskan sosok JM adalah guru ngaji yang disebut sebagai murabbi oleh para pengikutnya dari kelompok teroris Negara Islam Indonesia . "Makanya murabbi ini susah kalau dijelaskan apa ya kalo dibedakan dengan guru, tapi kalo saya kira guru sebagai tempat orang bertanya sudah cukup sih," lanjut dia.