Bongkahan kayu kerobos di Makam Butuh, Gedongan, Plupuh, Sragen, menjadi sedikit peninggalan yang tersisa dari Joko Tingkir. Perahu itu konon didorong buaya.
SOLOPOS.COM - Seorang warga melihat-lihat kondisi kayu tua yang diyakini sebagai perahu atau gethek Joko Tingkir di Punden Domba di Dukuh Butuh, Desa Karangudi, Ngrampal, Sragen, Jumat . Joko Tingkir alias Sultan Hadiwijaya meninggal dan dimakamkan di Dusun Butuh, Desa Gedongan, Kecamatan Plupuh, Sragen. Tak jauh dari jasad Raja Pajang itu bersemayam, ada bongkahan kayu keropos tak berbentuk sepanjang sekitar empat meter yang diyakini sebagai bekas perahu Joko Tingkir.
“Dulu ada rantai yang terbuat dari emas dan cadiknya. Sekarang rantai dan cadik itu sudah menghilang menjadi gaib. Cerita dari simbah-simbah dulu, Kiai Karebet [Joko Tingkir] menaiki perahu itu muter-muter dan akhirnya tiba di dukuh ini bisa menemukan apa yang dibutuhkan sehingga diberi nama Dukuh Butuh. Tempat muter-muter itu jadi Dukuh Nguter,” kata Mbah Naryo.
Menurut pemerhati sejarah yang tinggal di Dukuh Butuh, Banaran, Sambungmacan, Priyanto, 57, yang diwawancara pada 2020, dalam pencarian itu Joko Tingkir bertemu dengan Ki Ageng Banyu Biru. Ki Agung Banyu Biru sudah menyiapkan perahu di sebuah embung. Perahu itu terus berputar-putar hingga datang calon pemiliknya yang tidak lain Jaka Tingkir.