Penobatan Mangkunegara X dirayakan di dalam dan luar istana. Warga ingin menyambut adipati baru dan berharap Pura Mangkunegaran lebih berkontribusi dalam kehidupan sosial dan budaya warga di Surakarta. Nusantara adadikompas gre_ccp13 ninopalsu
KOMPAS/GREGORIUS MAGNUS FINESSO
Pagi itu, Sudali menyantap nasi gudangan atau urap bersama sejumlah sejawat penyapu jalanan dan puluhan warga yang secara spontan berkumpul di seberang Pura Mangkunegaran. Para warga berpesta nasi tumpeng dan jajanan tradisional yang disajikan secara swadaya oleh sekelompok warga. Di saat sama, di dalam pagar Pura Mangkunegaran, berlangsung penobatan Gusti Pangeran Haryo Bhre Cakrahutama sebagai Kanjeng Gusti Adipati Aryo Mangkunegara X.
Melihat ada pesta merakyat yang jarang dijumpainya di Jakarta, dia pun mendekat. Sebagai penyantap berdomisili terjauh, dia bahkan didapuk sebagai penerima nasi tumpeng pertama. Baginya, pengalaman tersebut sungguh berkesan. ”Kami juga ingin menyambut seluruh tamu Mangkunegaran dan menunjukkan Surakarta kota yang ramah dan berbudaya,” kata Suhartanto.
”Apa yang kami lakukan kemarin wujud kebanggaan kami sebagai warga Kelurahan Keprabon, di mana kawasan Mangkunegaran adalah bagian dari kelurahan ini,” katanya. Dalam penelitian Rahmad Basuki, mahasiswa Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Solo pada 2010, berjudul ”Peranan Komisi Dana Milik Mangkunegaran dalam Proses Nasionalisasi Aset-Aset Mangkunegaran Tahun 1946-1952”, sejumlah aset yang pernah dikuasai Mangkunegaran hingga sebelum kemerdekaan RI, yakni Pabrik Gula Tasikmadu dan Colomadu, perkebunan kopi Kerjo-Gadungan, pabrik beras Moyoretno di Matesih, serta perusahaan kapuk, kelapa, dan kopi di Polokarto.